Pojok Cerita

Halaman ini khusus aku bikin untuk mem-publish tulisan aku, lebih tepatnya cerita pendek sih ya. Sebenarnya lumayan banyak cerita pendek yang aku sudah tulis tapiiiiiii.. semuanya hilang ketika ngupgrade versi windows yang baru di laptop! lupa diback-up dan berakhir dengan hilang semua. Cerita ini aku iseng-iseng aja bikinnya, ngga ada maksud apapun. Ada beberapa bab sih, tiap aku nulis bab baru pasti aku akan langsung update di sini🙂

 

 

Judul : Cerita Tentang Tasha

BAB 1

Keluargaku

Keluargaku terdiri dari empat orang, aku, adikku, ayah, dan ibuku. Keluarga kecil yang sederhana. Canda dan tawa selalu menghiasi suasana di rumah. Ayahku adalah pahlawanku, cinta pertamaku, idolaku! Beliau sungguh seorang lelaki yang penyabar, penyayang, serta bertanggung jawab. Ibuku adalah seorang malaikat penuh cinta, kasih sayang, dan rela berkorban. Adikku adalah teman sekaligus sahabatku di rumah. Bermain dengannya lebih mengasyikkan daripada bermain dengan teman-teman sebayaku di sekolah ataupun di daerah perumahanku. Aku memiliki dua anggota keluarga lainnya di rumah, Alenka dan Sammy. Alenka adalah seekor kucing betina yang super manja. Setiap aku tidur, Alenka selalu bersiap-siap untuk menaiki ranjangku, bahkan sebelum aku sempat menaikinya! Alenka sudah seperti boneka pengganti yang menemaniku menabur bunga mimpi semalaman penuh. Sammy adalah anjing yang kuat, gagah, perkasa, serta setia. Adik dan ayahku sangat menyayangi Sammy. Sammy sudah seperti pelindung di keluargaku. Warna bulunya coklat keemasan. Sammy dan Alenka tidak pernah bertengkar walaupun banyak orang yang bilang bahwa musuh bebuyutan anjing adalah kucing, tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk kedua hewan peliharaanku tersebut.

Rumahku, adalah istanaku.

 

 

BAB 2

Cahaya Lilin di Malam Hari

Kamarku berada di lantai dua, bersebrangan dengan kamar adikku. Kamarku dipenuhi dengan hiasan-hiasan lucu yang tertempel di dinding, foto-foto di lemari hias yang berlapiskan kaca, serta boneka-boneka porselen yang sangat banyak. Sedari kecil, aku sudah menjadi penggemar boneka-boneka antik. Ibuku sempat memarahiku, beliau bilang bahwa boneka di kamarku sudah terlalu banyak dan aku tidak diperbolehkan membeli boneka lagi walaupun hanya satu buah boneka saja. Aku asyik sekali menggoreskan tinta berwarna-warni di buku menggambarku, tidak lupa ditemani boneka-boneka kesayanganku. Alenka datang dan masuk ke kamarku. Dia mulai bercanda ria dengan salah satu boneka kesayanganku. “Hush! Alenkaaa! Jangan boneka yang itu!”, aku mengusirnya pergi dan Alenka pun menjauhi boneka kesayanganku. Aku memeluk boneka kesayanganku itu dan menaruhnya di pangkuanku. “Oke, sekarang aku akan mulai menggambar wajahmu”, ucapku pada boneka kesayanganku itu. “Mungkin gaya rambutmu harus diubah di sini ya, lalu.. kau memakai baju yang seperti ini? Bagaimana? Oh, kau ingin mencoba memakai celana panjang?? Bukankah rok dan gaun lebih manis??”

Ketika cahaya matahari sudah mulai meredup dan hanya beberapa sinarnya yang mengintip masuk ke dalam kamarku, aku meletakkan semua peralatan menggambar dan mulai merapihkan semua mainanku. Aku bergegas untuk mandi tetapi badanku terasa sangat mengantuk. Aku pun merebahkan diriku di ranjang.

Kesadaranku berangsur pulih dan mataku mulai terbuka, tetapi bayangan benda-benda di sekitarku masih terasa bergelombang. Aku mengusap kedua mataku, untuk mengembalikan pengelihatanku sepenuhnya. Hari sudah malam. Kamarku sangatlah gelap. Tidak banyak cahaya rembulan yang menyerbu masuk ke kamarku melalui jendela. Aku berjalan sambal meraba-raba dinding kamar dan berusaha menemukan tombol lampu. Aku mulai panik karena aku tidak bisa menemukan tombol lampunya!

Dari luar kamar, aku melihat cahaya yang berwarna kekuningan. Akhirnya, aku berjalan menuju arah cahaya itu. Cahaya itu ternyata berasal dari sebatang lilin. Aku mulai bisa melihat benda-benda di sekitarku karena cahaya dari lilin tersebut. Sekilas, aku seperti melihat sesuatu bergerak. Benar saja! Ada sesuatu yang bergerak menuju ke arahku! Aku melihat bayangannya semakin dekat. Semakin dekat, dan aku semakin menahan nafasku, jantungku berdetak tidak menentu, aku takut. “Siapa itu?”, aku berteriak. “Ibu! Ayah!”, aku tambah berteriak sambil memutarkan kepalaku dan melihat sekitar. “Sammy! Siapa itu?? Dennis??”

Bayangan itu pun berhenti. Aku melihat sebuah kepala kecil mengintip dari balik dinding. Wajahnya tersenyum saat melihatku. Matanya yang biru, bulat, seperti berlian, asyik memandangiku. Aku terkejut ketika mengetahui siapakah yang sedang berjalan ke arahku.

“Tasha! Tasha!!”

Itu suara ibu!

Sesaat kemudian, semuanya terasa gelap dan aku merasakan tubuhku bergoyang-goyang. Aku pun bangkit dari tempat tidurku sambil bermandikan keringat. Kamarku tidak gelap gulita lagi, justru sangat terang. Aku melihat ibuku berada di sampingku. Ternyata, beliaulah yang membangunkanku dari tidur. Tersadar, semua itu hanyalah mimpi. Aku menghela nafas panjang, lega sekali rasanya. Ternyata ibu menyuruhku untuk bersiap-siap mandi. Sebelum keluar kamar dan menuju kamar mandi, aku mulai menghitung seluruh boneka ku.

BAB 3

Susahnya Mencari Kawan

Hari ini, aku mulai masuk sekolah baru. Sekolahku tidak jauh dari rumahku, sehingga, aku pun lebih memilih naik sepeda setiap pergi ke sekolah. Sekolah swasta di tingkat menengah pertama. Ibuku yang memilihkan sekolah ini untukku. Aku tidak berkomentar banyak ataupun mengeluh tentang sekolah pilihan ibuku. Ibu bilang, sekolah ini sangat lengkap baik dalam hal fasilitas, kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, dan guru-guru yang professional. Ibuku mengharapkan aku dapat belajar dengan baik di sekolah ini, memanfaatkan apapun fasilitas yang diberikan di sekolah ini, dan lebih banyak bersosialisasi dengan teman-teman satu sekolah. Dari sekian banyak permintaan ibuku, hanya yang terakhir yang sangat susah untuk ku laksanakan. Aku benci sekali bersosialisasi. Aku pemalu, tidak pandai bergaul ataupun merangkul teman untuk dekat denganku ataupun menyayangiku.

Aku menaruh sepeda merahku di tempat parkir khusus sepeda. Ku lihat deretan parkiran yang lumayan dipenuhi sepeda. Ternyata bukan hanya diriku ini yang lebih suka bersepeda menuju sekolah.

Sangat banyak ruangan di sekolah ini. Satu persatu, aku melihat papan yang menuliskan nama-nama setiap kelas. Ruangan untuk anak kelas satu, ternyata ada di lantai dua. Sesudah menemukan kelasku, aku mulai melihat-lihat ke dalam. Aku gugup sekali. Aku memilih bangku di dekat jendela, di pojok kiri dan bagian belakang. Aku berharap tidak akan banyak anak yang memerhatikanku jika aku mengambil tempat duduk di sekitar sini. “Untunglah”, gumamku dalam hati. Tidak banyak anak-anak sekelasku yang memerhatikan aku. Aku sangat gugup ketika bertemu dengan orang-orang baru!

Kelasku sudah dipenuhi oleh siswa dan siswi kelas satu. Sama-sama anak baru di sekolah ini. Tepat ketika bel berbunyi, seorang wanita yang tinggi, berkacamata, anggun, berpakaian sangat rapih, dan rambutnya yang digulung ke atas pun sedikit bermunculan rambut-rambut putih di sana-sini. Ya, itu adalah wali kelasku. Wali kelasku memberikan kata-kata sambutan untuk murid-murid barunya. Kemudian mulai mengabsen kami satu persatu. Setiap nama yang dipanggil, wajib memperkenalkan dirinya masing-masing. Ketika giliranku dipanggil, aku pun gugup dan sedikit berbicara terbata-bata.

“Selamat pagi, semuanya. Eh.. ng.. namaku.. Tasha Wijaya, tapi panggil saja Tasha. Aku.. itu.. asal sekolahku dari SD swasta Mawar 1”, ucapku sambil malu-malu.

Aku mulai mendengar anak-anak sekelasku rebut ketika aku menyebutkan asal sekolahku. Aku mengabaikan mereka dan bersiap untuk duduk lagi di bangku ku.

“Oh, nak Tasha. Suatu kebanggaan kamu bisa hadir di antara kita. Kamu belum menyebutkan hobimu?”

Aku tidak jadi duduk, aku langsung berdiri lagi, “Hobiku tidak istimewa, bu. Aku ketika di rumah, hanya suka menghabiskan waktu untuk menggambar, aku juga suka mengoleksi boneka-boneka porselen”. Aku tersipu malu dan tidak mau mengangkat wajahku. Aku tidak bisa tahan kalau saja aku menyadari ada beberapa anak yang memandang ke arahku. Kemudian, aku pun duduk lagi di tempatku.

BAB 5

Sakit Telinga

Sudah dua bulan ini, aku mencicipi bangku sekolah menengah pertama. Awalnya, aku sangat gugup, kemudian aku mulai terbiasa dengan suasana di sekolah. Susah bagiku mencari teman yang bisa dekat denganku, tetapi aku tetap berusaha. Aku mendekati beberapa teman yang dekat dengan tempat dudukku di kelas. Mungkin, hanya satu siswi yang bisa lumayan dekat denganku. Dia sama-sama memiliki hobi mengumpulkan mainan, walaupun yang dia kumpulkan bukanlah boneka tetapi puzzle dan lego. Namanya Kennia. Aku sempat emamnggilnya Kenny, tetapi dia protes dan bilang kepadaku bahwa dia lebih suka jika aku memanggilnya Nia. “Kenny seperti nama laki-laki saja”, suatu hari ia berbicara seperti itu kepadaku.

 

Nia dan aku semakin hari semakin dekat. Aku tidak boleh jajan sembarangan di luaran, jadi, ibuku membawakanku bekal setiap hari. Nia awalnya tidak membawa bekal dan hanya jajan di kantin sekolah, tetapi lama-kelamaan dia juga membawa bekal sama sepertiku. Senang rasanya memiliki teman sepertinya walaupun hanya satu orang saja, sudah cukup bagiku. Nia dan aku walaupun memiliki hobi yang sama, tetapi kepribadian kami berbeda jauh. Aku seorang yang pemalu, kurang percaya diri, dan sulit berteman sedangkan Nia adalah perempuan yang tomboy, pemberani, memiliki suara yang lantang, penuh percaya diri dan memiliki jiwa seorang pemimpin. Nia sering membawaku untuk berkumpul dengan teman-teman lainnya di dalam kelas.

 

Tidak ada yang special lagi di hari-hariku, di sekolahku, ataupun di rumahku. Semuanya terasa biasa saja bagiku. Aku baru saja pulang dari sekolah dan mengayuh sepedaku dengan cepat. Rasanya matahari seakan dendam kepadaku dan memuntahkan cahaya teriknya kepadaku. Aku tidak mau kulitku terbakar matahari. Butiran-butiran keringat pun membanjiri seluruh badanku. Tidak hanya rambutku saja yang lepek, tetapi bajuku pun lepek juga oleh keringat. Sesampai di rumah, aku cepat-cepat memanggil penjaga rumah agar beliau membukakan pintu pagar untukku. Aku bergegas ke dalam rumah dan menaruh sepedaku di garasi. Aku melihat mobil papah terparkir di garasi rumah. Aku senang sekali! Akhirnya papah bisa pulang bulan ini!

 

Dengan sedikit tergesa-gesa, aku mencari ayahku di dalam rumah. “Ayah pulaaang!!”, aku berteriak kegirangan di dalam hati.

 

Langkahku terhenti ketika aku mendengar suara beling yang jatuh. Aku memperlambat langkahku dan mengintip dari balik tembok, mungkinkah ada sesuatu yang jatuh?

 

Aku melihat ibuku sedang menangis di atas sofa, sedangkan ayahku berdiri di sampingnya tetapi wajahnya membelakangiku. Ku lihat di sisi kanan ibu, vas bunga kesayangan ibu yang hancur berantakan. “Ada apa ini?”, gumamku dalam hati.

 

“Pergi kau dari rumah ini! Atau aku saja yang pergi dan membawa semua anak-anak kita! Tak pantas kau menjadi seorang ayah!”, ibuku berteriak sambil tetap menangis terisak.

 

Bagaikan mendapat mimpi buruk di siang hari, aku sangat sangat terkejut melihat kedua orang tuaku sedang beradu mulut. Aku tak tahan. Aku segera memasuki kamarku, menguncinya, dan bersembunyi di balik selimut. Dari kamar, masih dapat ku dengar teriakan ibu. Ayah pun tidak kalah suaranya dibandingkan teriakan ibu. Aku tidak mau mendengar suara kedua orang tuaku yang sedang bertengkar. Aku mencopot alat yang terpasang di telingaku, menaruhnya di atas meja, dan aku pun berusaha tertidur.