Saat Diriku yang Lainnya Berkata… (Final Part)

Aku memiliki kisah tentang seorang teman, saat itu dia sedang jatuh cinta. Dia berkata padaku, bahwa cinta itu tidak nyata, hanya sebatas reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Jangankan cinta, manusia pun dia tak seorang pun ia percayai. Termasuk aku, walaupun aku sahabat dekatnya. Kisah cintanya, tidak manis di awal, tidak perih di akhir, tetapi terlalu banyak sakit hati. Cinta bertepuk sebelah tangan. Temanku itu tau bahwa cinta itu tidak nyata, akan tetapi, ia tidak bisa mengendalikan pikirannya di saat itu.

Ia bertemu dengan seorang pria. Pria itu baik hatinya, punya kharisma yang tinggi, selera humornya bagus, dan dia senang berteman dengan siapa saja. Temanku itu, jatuh cinta sejak awal ia berjumpa. Ia bercerita padaku, mendeskripsikan pria tersebut. “Wajahnya yang teduh, aromanya yang manis, dan kata-katanya yang tepat sasaran, agak sedikit menyakitkan hati terkadang, tapi ia jujur apa adanya”, ungkap temanku. Aku mendengarkan ceritanya dengan serius. Ku tatap wajahnya. Pandangan matanya kosong. Ia berusaha nampak wajar, ceria, tetapi aku tau, ia memendam sesuatu yang membuat hatinya terluka, mengosongkan semua pikirannya, membuat kabur semua fokus matanya. Aku prihatin dengannya, tetapi aku tidak berucap sepatah kata pun. Aku hanya bisa mendengarkan ceritanya saja.

“suatu hari, aku dan pria tersebut, kau tau, dimabuk asmara. Kami bercumbu. Dia dari awal tau bahwa aku cinta padanya, dan dari awal pun aku tau, dia tidak mencintaiku”. Mata temanku sudah mulai berkaca-kaca. “Menurutmu, apakah aku ini egois? Atau aku terlalu manis untuk dimanfaatkan?”

Hei, hei, kau itu perempuan yang lugu, sangat polos, baik hati, tulus, kau perempuan yang sempurna!

 

Seandainya bisa aku berbicara, akan ku sampaikan itu padamu, kawan. Sayangnya, aku hanya bisa mendengarkan saja.

Pahit rasanya membina suatu hubungan yang tidak ada timbal balik diantara keduanya. Hubungan satu arah. Hanya ada pemberi dan penerima. Tidak ada saling memberi dan menerima. Hubungan seperti itu tidak baik.

Selepas temanku itu pergi, aku tetap terdiam. Bisa apa aku ini? Aku hanya bisa jadi tempat curhatmu, melihat segala amarahmu, mendengar setiap tangisanmu, bahkan aku tau, hanya aku yang tau bahwa kau sedang berpura-pura tersenyum, bahagia, ceria.

Akhir ceritanya, tidak ada akhirnya. Hubungan yang ia jalani, hanya satu arah saja. Pria tersebut, sampai akhir, masih tidak bisa menerima cinta temanku. Temanku sampai akhir, masih mencintainya, tetapi ia memilih untuk berpisah. Tidak hanya berpisah dengan pria tersebut, ia juga berpisah denganku, dengan dunianya. Aku hanya bisa menyimpan semua memori tentangnya, tanpa seorang pun yang tau. Itulah cerita cinta tentang temanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s