Saat Diriku yang Lainnya Berkata..  

Aku memandang cermin yang memantulkan bayangan wajahku. Sejenak, ku singkirkan cermin itu. Aku menghela nafasku. Ku ambil cermin itu kembali. Masih tak dapat ku pamerkan senyum di wajahku. Aku terlihat sangat kusut. Tak ada rona bahagia yang terlukis di wajahku. Beberapa jam ini, aku terus cemberut. Segala cara sudah ku kerahkan untuk mengembalikan kebahagiaanku, tetapi semuanya sia-sia.

Ku rebahkan badanku di atas tempat tidur. Berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal aneh yang membuatku mudah cemas. Ah, rasanya, aku sudah tak tahan!

Hal apakah yang membuatku tidak bahagia? Justru jawabannya sangat sederhana. Aku tidak bisa mengendalikan suasana hatiku, emosiku, dan keegoisanku. Aku merasa aku manusia yang hina. Terlalu banyak hal-hal buruk yang menetap dalam diriku.

Sebagian diriku berkata, “Tahanlah sebentar, tahan emosimu, belajarlah untuk percaya padanya”.

Berbeda dengan diriku yang lainnya, “Kau tau, dia selalu ada, tetapi mengapa dia tidak kunjung membalas pesanmu? Mungkin saja dia marah padamu, bosan padamu, kau kan memang perempuan yang sangat menganggu”

“Bodohnya! Hanya kau yang sayang padanya, hanya kau yang cinta padanya, tetapi dia tidak! Dia hanya mempermainkanmu!”, aku melihat diriku yang lainnya lagi, sangat murka kepadaku.

“Ica, dengarkan kata hatimu. Dia peduli padamu, dan mungkin saja sayang padamu, tetapi inilah dia. Hanya saja dia tidak terbiasa mengutarakannya secara langsung. Berilah dia waktu untuk dirinya sendiri”

“Kau masih mendengarkan si baik itu?! Pakai logikamu! Jelas-jelas kau tau bahwa dia masih membuka matanya! Dia belum tidur! Kau lihat status itu? Dia hanya sengaja membiarkanmu! Membiarkan pesanmu tidak terbaca! Dia tidak peduli kepadamu! Dia tidak sayang kepadamu!”

“Ica, kami juga bagian dari dirimu. Tolonglah, sekali ini saja, kau percaya padanya. Ayolah..”

Berbagai suara ku dengar dan semakin riuh berkecamuk di dalam diriku. Aku hanya bisa terdiam. Sesekali, ku pandangi lagi wajahku di cermin. Mungkin saja bayanganku bisa membuatku tersenyum? Ah tidak, justru bayangan di cermin itu sama buruknya dengan keadaanku sekarang ini.

Apa yang harus ku lakukan? Apakah aku harus percaya padanya? Atau.. diriku yang lain itu benar, bahwa logikaku sudah lumpuh? Dia hanya mempermainkanku?

Rasanya, aku ingin berteriak!

Hei, kau!! Ya, kau yang di sana!! Aku cinta padamu!!

Tetapi, yang ku lakukan hanyalah.. mengunci bibirku rapat-rapat. Membuat diriku seolah-olah orang yang bisu. Ingin rasanya ku lakukan sesuatu tapi aku hanya diam membatu.

sad-girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s