Saat Diriku Yang lainnya Berkata… (Bagian 2)

Aku merasa tertekan kemarin, tetapi sekarang aku sudah berangsur-angsur membaik. Ku kumpulkan segenap tenagaku untuk kembali ceria dan berbahagia. Aku melihat wajahku di cermin dan aku mendapati bayangan diriku sedang tersenyum lebar. Cantik sekali! Seandainya saja, aku bisa tersenyum seperti ini setiap hari.

Kakiku melangkah meninggalkan tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi. Aku mandi dengan penuh semangat dan rasanya aku tidak mau meninggalkan tempat ini dan bermain air saja seharian di kamar mandi!

“Wah, wah, ternyata diriku sudah tidak uring-uringan seperti kemarin ya? Sampai kapan kau mau tetap tidak konsisten dengan suasana hatimu? Jatuh cinta atau memang sakit jiwa sih, kau ini??”

Aku mulai cemberut mendengarkan diriku yang lainnya menggodaku seperti itu. Heh, kau pikir mengubah suasana hati itu mudah? Semudah membalikkan telapak tangan??

“Sudahlah, setidaknya, dia hari ini sudah mengisi hari-harinya dengan penuh semangat. Kau sebagai bagian dari dirinya, seharusnya mendukung suasana hatinya yang sedang bahagia dong!”

Aku merasa terselamatkan dengan kata-kata diriku yang lainnya yang sangaat baik. Ku pikir, dia adalah tokoh protagonis yang ada di dalam diriku.

“Ha! Lihat saja nanti! Dia akan kembali uring-uringan kalau melihat pujaan hatinya tidak menaruh simpati padanya!”

“Aku yakin, bahwa laki-laki itu peduli padanya! Kau jangan mengkomporinya seperti itu! Aku tidak pernah salah dengan instingku! Kita harus mendukungnya di saat dia jatuh cinta!”

“Hei, kau! Kau pikir laki-laki hanya ada satu di dunia ini?? Lalu, untuk apa kau hidup hanya untuk satu lelaki. Sementara si pujaan hatimu itu dekat dengan perempuan lain? Bahkan mantan pacarnya sendiri??”

Aku segera menyelesaikan ritualku di kamar mandi, dan cepat-cepat berganti baju. Aku tidak merasa semua hal yang dikatakan diriku yang satu lagi yang berbicara jahat itu salah. Mungkin saja ada benarnya. Aku jatuh cinta dengan lelaki yang salah, yang tidak bisa menerimaku apa adanya, yang tidak pernah mencintaiku atau sekedar jatuh cinta padaku, tak pernah sekalipun menyanjungku atau memberi respon yang baik kepadaku. Bahkan, laki-laki itu dengan seenaknya bercanda gurau dengan mantan kekasihnya. Miris sekali kehidupan cintaku.

“Ayolah, Ica! Kau harus tetap semangat! Percaya padanya. Kepercayaan itu penting dalam membina suatu hubungan. Yah, walaupun kalian belum resmi sama-sama menyatakan cinta sih..”

Ya! Aku harus tetap bersemangat!

Iseng, aku mengecek pesan yang masuk hari ini. Hah.. lagi-lagi.. hanya email tidak penting saja yang terlihat di daftar notifikasi hanphoneku, dan tunggu! Aku mendapatkan pesan darinya!

Gugup dan penuh pertimbangan. Aku berulangkali hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Tidak dengan ucapan “Halo” atau “Hai” saja. Ku pikir, apa yang dia rasakan ketika mengirim pesan padaku? Hanya sebagai bagian dari keisengannya? Kebosanannya? Atau karena aku ini teman wanitanya? Atau karena kemarin malam aku membentaknya karena tidak mempedulikanku?

Aku hanya melihat pesan itu, tanpa sedikitpun bernafsu untuk membalasnya.

33d9d5bf11906ba9826108e8fe71c7c5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s