Lapar

starving-yourself

 

Manusia makhluk yang sempurna

Secara fisik, lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya

Manusia memiliki akal dan perasaan

Tubuh manusia pun lebih kompleks dibandingkan dengan makhluk lainnya

Oh, betapa indahnya terlahir sebagai manusia!

 

Tertulis di buku

Manusia memiliki lima indera, tetapi

Aku memiliki telinga yang separuh lagi sepertinya akan tuli

Aku memiliki mata yang tidak bisa melihat benda-benda dengan jelas

Aku memiliki lidah tetapi bagiku smeua rasa makanan sama saja

Aku memiliki hidung

Ya! Bagian tubuh inilah yang sangat menggangguku

 

Semua makanan rasanya sama

Aku kesulitan membedakan makanan enak atau tidak

Yang jelas, aku sangat peka dengan indera penciumanku ini

Jangankan makanan, bau setiap manusia pun aku dapat membedakan

 

Tidak terkesan sama sekali dengan kemampuan ini

Aku sangat peka terhadap wewangian apapun

Termasuk wewangian makanan

 

Seringkali aku terjaga di pagi buta

Mimpiku tergulung tiba-tiba

Aku mencium wangi masakan

Perutku pun menari tidak karuan

 

Lapar, itulah yang ku rasakan setelah mencium aroma masakan

Indah, aku hanya butuh mencium aroma masakan itu!

Jangan sampai makanan itu masuk ke tubuhku

Nanti tubuhku kalah berlekuk dengan biola!

 

Diriku yang lain pun memarahiku

“Bagaimana kau bisa menahan lapar?”

“Cukupkah hanya dengan mencium aroma masakan?”

“Tanpa secuil pun memasukan sesuatu ke dalam perutmu?”

 

Aku memarahi diriku yang sombong itu

Aku dapat menahan rasa laparku

Aku ingin menjadi sempurna!

Aku ingin bisa menggapai hati sang pujaanku!

 

“Bodohnya manusia yang satu ini”

“Kau tak lihat banyak gelandangan yang kelaparan?”

“Mengais sampah layaknya mencari permata”

Diriku yang lainnya membentak marah padaku

 

Ku bayangkan orang-orang miskin itu

Tidak ada uang, daun pun dimakan

Tidak ada pakaian, karung pun dipakai

Tidak punya rumah, kardus pun dirangkai!

Aku memandangi diriku sendiri

Jahat sekali aku ini

Berusaha menahan lapar hanya demi sang pujaan hati

Merasa kenyang hanya dengan mencium aroma nasi

 

Berkaca aku di depan cermin

Oh, betapa kurusnya tubuhku, betapa pucatnya!

Aku tak lebih seperti hantu

Lain kali ku berjanji, tak akan menahan lapar lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s